Sumba Timur “Oase Keramahan di Padang gersang”

Sejauh horizon padang meluas di sumba timur, tampak padang rumput luas dengan guratan perbukitan gunung yang sedikit hijau. ketika musim hujan tiba di awal desember warna-warni kuning coklat kusam berganti dengan hijau semi rerumputan. Sapi dan kuda berkeliaran diantara bebatuan, tak enggan mereka bergerak ditengah Panasnya matahari.
sejumlah kecil perkampungan terlihat dikejauhan dengan atap jerami dan ilalang. kebanyakan rumah tradisional di sumba timur memang menggunakan atap yang jerami dan ilalang yang dianyam sebuah sistem stabilisator suhu ruangan versi sumba yang terbukti efektif melawan fluktuasi suhu yang cukup ekstrim di sumba timur. dari ketinggian pesawat ketika akan mendarat di bandara waingapu anda akan melihat hal tak biasa dari pulau sumba. topologinya seperti dasar laut yang entah kenapa muncul sebagai sebuah pulau. salah satu bukti yang dapat menguatkan hal itu adalah tidak adanya hewan darat asli atau hewan khas pulau ini. Semua hewan yang ditemui merupakan hewan ternak atau hewan yang terbawa oleh manusia.

Sering kita salah mengira pulau sumba dengan sumbawa. Sumbawa terletak di provinsi Nusa tenggara barat diantara pulau lombok dan flores, sedangkan Sumba terletak di Provinsi Nusa tenggara timur di selatan flores, di sebleh barat pulau timor langsung berhadapan dengan samudra hindia di bagian selatan. Sumba timur adalah salah satu kabupaten di pulau sumba, ada 3 kabpuaten lain yaitu sumba barat, sumba tengah dan sumba barat daya, ketiga kabupaten terakhir adalah pemekaran dari sumba barat.  pulau sumba adalah salah satu pulau terluar indonesia, berbatasan langsung dengan samudra hindia dan australia diseberangnya.

Sepanjang perjalanan saya dengan “oto” sebutan masyarakat setempat untuk mobil tak henti-hentinya sapaan dan lambaian tangan menyambut dari kejauhan. tak peduli siapa yang ada didalam mereka tetap senyum dan menyapa. saya betul -betul kaget ternyata dibalik rahang yang tegas dan kuat dan tampak seram itu ada hati yang lembut luar biasa. bentuk rahang yang agak segitiga tegas itu karena sehari-hari mereka sering mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok, jagung biasanya diolah dicampur beras atau dipipil sekedarnya. jagung memang agak liat dibandingkan dengan beras sehingga otot-otot disekitar rahang mereka mengeras sehingga terlihat raut muka yang tegas.

Perjalanan saya dimulai dari ibukota kabupaten waingapu menuju ke kecamatan kahaungu eti, tepatnya didesa kamanggih, disinilah saya disambut hangat oleh umbu janji. mereka sangat menghormati tamu siapapun, mereka akan menyembelih ayam untuk dihidangkan kepada tamu yang datang. bahkan jika tamunya seorang muslim mereka akan meminta tamu tersebut menyembelih ayamnya sendiri karena khawatir jika mereka yang menyembelih maka tamu yang muslim tidak ikut makan. saya berkeliling kamanggih dan berinteraksi dengan warga ternyata disetiap kampung yang saya kunjungi saya harus menyembelih ayam untuk saya makan. tidak kurang 4 ekor ayam saya sudah sembelih selama dua hari kunjungan di desa kamanggih dan dusun disekitarnya.

Saya di sumba timur tidak sekedar jalan-jalan saja tetapi juga dalam rangka mencari potensi angin untuk pembangkit listrik tenaga angin. Sumba secara international oleh Jejaring LSM Lokal dan International sudah dicanangkan sebagai ICONIC ISLAND untuk energi terbarukan. dengan segala potensinya angin, air dan matahari diharapkan pulau sumba dapat memenuhi kebutuhan energinya dari sumber terbarukan. pada tahun 2011 di Desa kamanggih telah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro yang dikelola oleh masyarakat. selain itu juga di hampir sepanjang jalan di sumba banyak kita temui rumah-rumah yang dipasang solar cell sebagai sumber energi. beberapa tempat juga dapat ditemui rumah yang menggunakan turbin angin sebagai sumber energi seperti pemukiman di matawai katingga.

Banyak program pelistrikan baik dari PLN maupun Swadaya masyarakat menggunakan energy terbarukan. seperti matahari, angin atau air tetapi banyak program juga yang tidak berhasil bukan karena kesalahan pada teknologi tetapi lebih banyak pada masalah pengurangan kualitas alat dan tidak adanya pelatihan penggunaan teknologi kepada masyarakat. temuan menarik adalah pada beberapa PLTS yang dibangun dengan dana PNPM banyak yang tidak berfungsi dengan optimal bahkan ada juga yang cuma bertahan dua hari setelah pemasangan. dari pengamatan yang saya lakukan dengan seorang teman dari ITB yang ikut serta dalam perjalanan saya, sistem yang dipasang memiliki kualitas suku cadang yang rendah dan tidak sesuai spesifikasi yang seharusnya selain itu juga terkait dengan tidak adanya pelatihan yang cukup terhadap operator lokal dan warga pengguna listrik dari tenaga surya ini.

Perjalanan saya lanjutkan ke selatan wilayah sumba timur,  melewati perbukitan di kaki taman nasional gunung wanggameti yang merupakan gunung tertinggi di Sumba timur. kondisi jalan yang rusak terbayar dengan keindahan rentetan perbukitan batu dan padang rumput. tidak banyak kita temui pemukiman di sepanjang jalan, orang sumba membuat rumah berdasarkan tempat dimana ternak mereka dapat berkembang biak. jadi jarak antar satu atau dua rumah bisa saja berkilometer jauhnya. tipikal ini banyak ditemui dipadang-padang datar terbuka. sedangkan masyarakat di perbukitan dan pegunungan atau pantai biasanya membentuk pemukiman dengan belasan atau puluhan rumah. mereka membuat pemukiman berdasarkan ketersediaan air dan tumbuhnya tanaman pangan.

Perjalanan saya sampai ke nggongi, dekat pantai selatan sumba timur, disana saya disambut dengan hangat dengan “kaluk rara”, buah pisang yang sudah matang dan lagi-lagi potong ayam. deretan pantai dan tebing menyejukkan mata terserak begitu rupa didaerah selatan sumba timur. salah satu pantai yang terkenal adalah tarimbang yang telah mempesona para peselancar international dengan goyangan ombaknya. penyuka off road mungkin akan sangat menyukai jalan jalan di daerah selatan karena medan yang menantang dengan variasi topografi yang unik dari gersangnya padang, seksinya pantai sampai Hutan rimba pun ada. semuanya lengkap dengan bonus keramahan penduduknya.

Kenikmatan saya menikmati pemandangan terganggu oleh sebuah spanduk “Stop penambangan emas ditaman nasional wanggameti” baru kemudian saya ingat cerita dari seorang teman asli sumba timur  bahwa ada gerakan dari masyarakat untuk menolak penambangan emas di wanggameti. Tambang ini dikelola oleh swasta dan bekerjasama dengan pemerintah daerah. perusahaan ini telah mendapatkan ijin eksplorasi selama 6 tahun tetapi dari warga dikabarkan bahwa perusahaan sudah mulai menambang.

Teman saya melanjutkan cerita bahwa penambangan wanggameti bisa sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sumba yang pada umumnya bertani dan beternak, karena wanggameti merupakan tempat dimana banyak mata air bahkan secara lokal masyarakat menyebutnya kepala air. Secara hukum penambangan diwilayah hutan lindung tidak diijinkan. Masyarakat sekitar taman nasional yang meliputi empat kecamatan telah secara tegas menolak dan bahkan sampai melakukan aksi demo. namun, tidak ada tanggapan bagi teriakan mereka. bahkan lebih jauh lagi penambangan dilakukan dengan pengawalan polisi. Setiap daerah di sekitar taman nasional yang saya kunjungi, saya selalu menyakan kejadian yang sama, dan sebagian dari mereka satu suara mengenai penambangan. saya jadi teringat freeport di timika, tak ada manfaat yang benar-benar dinikmati oleh masyarakat, malah mereka mendapatkan dampak permanen dari sebuah bencana akibat keserakahan manusia.

Perjalanan saya teruskan ke barat melewati simpang lewa dan kembali ke waingapu, mungkin jalur ini agak lebih baik untuk mengakses pantai selatan karena jalanannya relatif baik. dari kejauhan ujung patung kuda anda dapat menyaksikan hiruk pikuk kota waingapu dari kejauhan. kerlap-kerlip lampu terlihat sangat mencolok diantara kegelapan daerah sekitarnya. memang belum semua kecamatan di wilayah sumba timur terlayani listrik 24 jam. sebagian cuma 12 jam saja menyala dan ada ada yang cukup memakai pelita. lain lagi tentang komunikasi, keadaan memang agak lebih baik setidaknya sinyal cukup mudah ditemukan walaupun sesekali harus naik turun bukit. dari segala kekurangannya satu hal yang paling menyentuh saya adalah keramahan senyum manis dan sapaan hangat orang sumba timur yang tulus dapat dengan mudah di temui. dari padang tandus yang panasnya bisa mencairkan kepala, deretan bukit tinggi dengan hutan savana sampai di jalanan berpasir dekat pantai tempat ombak bercengkerama. inilah sumba timur ” sebuah oase keramahan”.

ditulis dibawah atap rumbia,

Kalihi, 18 November 2012

M. Subkhi Hestiawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s